Negeri ini semakin terhenyak tatkala kasus Gayus Tambunan menyeruak. Kasus ini kemudian menyingkap sebuah rahasia umum yang terpendam lama.
Hati semakin miris, tatkala terungkap seorang mantan petugas kebersihan di instansi Gayus Tambunan mampu memiliki kekayaan yang mungkin melebihi kekayaan yang dicuri Gayus.
Bagaimana bisa terjadi tatkala seorang petugas kebersihan mampu memiliki kekayaan yang demikian mencengangkan. Logika induktif dan deduktif pun bisa digunakan dengan melihat kasus ini. Betapa bobroknya mentalitas dan administrasi yang bisa membuat sang petugas kebersihan mampu menjadi koruptor dan merugikan negara dengan nilai yang tidak sedikit.
Gayus seakan semakin menjadi fenomenal, bukan hanya piawai dalam menumpuk harta dari cara yang merugikan negara (korupsi), akan tetapi memporak-porandakan tata hukum di negara ini.
Meskipun hanya pegawai golongan III/a, namun ia sangat profesional dan memiliki kekuatan super untuk menghancurkan tata hukum di negeri ini. Setelah ia mampu keluar masuk bui secara leluasa, menunjukkan Gayus sangat luar biasa. Mungkinkah masih ada Gayus-gayus lain di negeri ini yang memiliki kekuatan super yang bahkan mampu mengalahkan superman hukum dan kesaktian Wiro Sableng? Entahlah.
Andai ada alat medis pendeteksi kejahatan, maka akan ditemuka golongan darah baru yaitu golongan darah K (koruptor). Pemilik golongan darah K serasa akan sangat subur dan mampu melahirkan generasi baru yang memiliki golongan darah yang sama. Keberhasilan gen darah K mengembangkan spesies generasi serakah ini sangat memungkinkan karena sedemikian sistemik jaringannya dan mentradisinya budaya korupsi, sejak tingkat yang sederhana sampai yang strategis. Berkembangnya makelar kasus yang korup disebabkan karena sistem rekruitmen dan administrasi negeri ini yang masih lemah dan juga korup. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan jika Gayus Tambunan dan petugas kebersihan lainnya yang bernasib baik sudah banyak menikmati dan hidup secara mewah. Gayus Tambunan dan petugas kebersihan di atas hanya satu kasus kecil oknum yang lagi apes dalam menjalankan profesi korupsinya.
Mencermati kasus di atas, membuat kita memfokuskan diri dengan beberapa instansi yang diberitakan media cetak sebagai instansi yang diindikasikan melakukan korupsi.
Namun, terkadang kita lupa yang ada di sekitar kita yang mungkin sama, namun belum terungkap karena masih bernasib mujur tertutup dan tersimpan secara rapi.
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kasus sang koruptor di atas, yaitu;
Pertama, lemahnya sistem administrasi dan pengawasan keuangan, sehingga mudah diterobos.
Kedua, lemahnya sistem rekruitmen dan pembinaan aparatur pemerintahan, sehingga karakter dan keperibadiannya lepas dari sumpah jabatan yang pernah diikrarkan tatkala dilantik menjadi aparat pemerintah.
Ketiga, gagalnya pembentukan character building yang berasaskan keimanan. Mungkin kita telah berhasil dalam program pembentukan intellectual building, namun justru tanpa keimanan sebagai alat pengontrol dan rasa malu. Kasus di atas telah menarik perhatian kita beberapa hari ini. Sesungguhnya, kasus tersebut terjadi akibat kentalnya bangunan koncoisme dan materialism dalam bentuk seonggok uang yang terjadi di lingkungan mafia tersebut, baik pada unsur kedaerahan, keturunan, maupun kepentingan. Akibat bangunan koncoisme tersebut, dimensi kebenaran dan profesionalisme menjadi termarginalkan dan dianggap barang aneh.
Negeri aneh karena banyak orang yang aneh. Kita akan merasa aneh tatkala masih ada pejabat yang amanah, intelektual yang menjunjung tinggi idealisme keintelektualannya, atau komponen lainnya yang masih jujur.
Kondisi miris ini bukan hal yang baru, akan tetapi sudah berlangsung cukup lama di negeri ini. Sudah saatnya berbagai kasus di atas menjadi bahan pemikiran bagi dunia pendidikan untuk memformat ulang konsep yang ditawarkan.
Bagaimanapun juga, berbagai kasus yang mengenaskan di atas tersebut sedikit sebanyak berasal dari pendidikan kita yang belum mampu menanamkan kecerdasan emosional dan spiritual pada peserta didiknya.
Fokus yang dituju dan menjadi indikator keberhasilan pendidikan hanya tertuju secara dominan pada pencerdasan intelektual, tapi miskin pada kecerdasan emosional dan spiritual. Akibat kecerdasan intelektual tersebut, maka serasa semakin cerdas pula Gayus memainkan perannya sebagai aktor film korupsi dan pelecehan hukum.
Kondisi pendidikan yang hanya mengedepankan pencapaian target pada kecerdasan intelektual sudah saatnya dievaluasi. Agaknya, untuk menjawab kekacauan yang terjadi saat ini, paling tidak perlu dilakukan beberapa langkah preventif, yaitu;
Pertama, bersinerginya kekuatan tiga pilar lembaga pendidikan, yaitu keluarga sebagai peletak dasar keperibadian dan spiritual, sekolah sebagai proses pemberian ilmu pengetahuan, dan masyarakat sebagai media aplikasi (amal). Ketiganya perlu melaksanakan perannya masing-masing dan bersinergi antara satu dengan yang lain. Tatkala ketiganya tidak bersinergi, maka akan sulit untuk membangun kepribadian dan kecerdasan spiritual generasi.
Kedua, melakukan perubahan terhadap orientasi pendidikan. Tujuan yang ditargetkan harus mencapai tiga kecerdasan (intelektual, emosional dan spiritual).
Kurikulum yang ditawarkan bukan bermaksud memaksakan peserta didik dengan sejumlah materi yang tumpang tindih dan tidak bermakna, atau terlalu berat dan banyaknya materi yang akan diajarkan yang justru berbenturan dengan perkembangan psikologi peserta didik. Agaknya, kurikulum negara maju bisa dicontoh untuk kurikulum tingkat dasar. Mereka justru hanya menawarkan ilmu hitung, menulis, membaca, dan berkomunikasi.
Untuk konteks Indonesia, mungkin perlu ditambah dengan pelajaran agama. Sementara bidang lainnya dikaji pada tingkat lanjutan. Di sini anak tidak dijejali dengan aturan yang rigid. Akibatnya, mereka justru muak dengan aturan dan mencoba keluar dari aturan tatkala mereka sudah keluar dari lembaga pendidikan.
Bahkan, acapkali prilaku yang ditunjukkan keluar dari koridor yang ada.
Ketiga, prubahan arah kebijakan pemerintah dari intelectual oriented kepada aplikasi oriented yang dipenuhi nilai (agama dan adat) pada diri peserta didik. Bentuk evaluasi yang diterapkan selama ini justru semakin menyemarakkan permainan melanggar hukum.
Bahkan, terdapat segelintir institusi yang berubah dari lembaga sosial kepada lembaga bisnis. Akibatnya, semua aktivitas out put pendidikan terbiasa dengan bangunan yang hanya berorientasi menguntungkan, baik diri atau kelompoknya.
Keempat, menjadikan agama dan budaya sebagai ruh semua unsur kurikulum. Kedua unsur ini akan bisa mengontrol prilaku dari kualitas kecerdasan peserta didik kearah yang bermoral. Masa depan generasi yang akan dating sangat tergantung dengan warna dan bentuk apa yang ditanam oleh generasi hari ini.
Tatkala yang dipertontonkan adalah kejahatan yang menghalalkan segala cara meski harus melanggar hukum dan agama, maka generasi akan datang mungkin akan jauh lebih piawai memainkan bentuk kejahatan baru yang lebih canggih. Tapi, tatkala yang ditanam hari ini mampu memproses lahirnya generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, maka kejahatan yang merusak citra bangsa ini akan dapat diputuskan mata rantainya.Wa Allahu a’lam bi al-Shawwab.***
cattympuss
Senin, 20 Desember 2010
PERAN seorang Public Relations
(PR) sangat penting dalam sebuah organisasi maupun institusi ditengah meningkatnya teknologi dan arus informasi. Lebih dari itu, setiap orang pada dasarnya juga butuh jiwa sebagai PR untuk bisa menjelaskan kepada masyarakat sesuai tujuanmaupun harapannya dengan baik.
Hubungan PR dan media sangat erat.Agar punya daya tarik tersendiri, PR harus bisa surfing di atas gelombang isu, tren dan selajur dengan image yang hendak dibangun. PR juga tidak sekadar bisa membuat catatan rilis, tetapi rilis yang dibuat juga harus penuh kreasi dan inovasi sehingga punya daya tarik bagi editor media. Tidak hanya berhubungan baik dengan insan pers, tetapi PR juga mesti bisa menggoyang dengan isu strategis.
"Menjadi PR hebat itu tidak hanya cukup dengan performance, teknis, sikap dan komunikasi yang bagus. Utamanya justru harus mampu mengemas sampah menjadi emas dalam hal mengubah image. Ini pekerjaan yang hams terkonsep dengan baik," terang Don Kardono.PR. lanjut Don, harus bisa membuat semuanya manjadi bagus sehingga bisa menjadi perhatian. Sebab, modal awal mengubah image itu adalah perhatian. "Kalau orang cuek pasti sulit untuk mengubah image, makanya perhatian juga penting. Nah, untuk mencapai perhatian itu diperlukan inovasi".
Hubungan PR dan media sangat erat.Agar punya daya tarik tersendiri, PR harus bisa surfing di atas gelombang isu, tren dan selajur dengan image yang hendak dibangun. PR juga tidak sekadar bisa membuat catatan rilis, tetapi rilis yang dibuat juga harus penuh kreasi dan inovasi sehingga punya daya tarik bagi editor media. Tidak hanya berhubungan baik dengan insan pers, tetapi PR juga mesti bisa menggoyang dengan isu strategis.
"Menjadi PR hebat itu tidak hanya cukup dengan performance, teknis, sikap dan komunikasi yang bagus. Utamanya justru harus mampu mengemas sampah menjadi emas dalam hal mengubah image. Ini pekerjaan yang hams terkonsep dengan baik," terang Don Kardono.PR. lanjut Don, harus bisa membuat semuanya manjadi bagus sehingga bisa menjadi perhatian. Sebab, modal awal mengubah image itu adalah perhatian. "Kalau orang cuek pasti sulit untuk mengubah image, makanya perhatian juga penting. Nah, untuk mencapai perhatian itu diperlukan inovasi".
Langganan:
Komentar (Atom)